Tuesday, September 14, 2010 | By: dewantyajeng

Obsessive - Compulsive atau PTSD?

Hari itu . ..

aq lupa tepatnya tanggal berapa.
aq cuma ingat, hari itu kira - kira 2 minggu sebelum UN SMA taun 2010 dan hari itu adalah hari Sabtu (ceritanya aq waktukelas 3 SMA ne).


Gak ada firasat apapun waktu aq berangkat sekolah pagi itu. . sperti biasa, aq pegi ke sekolah pake sepeda motor kesayanganku ( ya iyalah, .. orang cuma satu!)
Sewaktu di sekolah, tersiar kabar gak enak ttg guru Kimia ku.
Ketua kelasq bilang kalo beliau sakit, jadi pulang nanti rencananya kami sekelas mau jenguk dy rame2.
oke, not bad, pikirq!

tiba jam pulang sekolah.
Rencana pun dijalankan . .
tapi gini . . brhubung aq bawa motor, dan aq males bawanya ke rumah guruq yang jaraknya agak jauh dan jalan ke sana agak rawan bus2 besar. Jadi, rencananya adalah:
aq balikin motor dulu ke rumah trus pindah ke angkot yang ditumpangin temen2 tu dari rumah ke rumah guruq. . (kebetulan kalau mau ke rumah guruq, melewati rumahq dulu)

Kami pun 'bergerak' dari sekolah
Kendaraan berjalan seperti biasa. . .
BELUM ADA MUNCUL FIRASAT APAPUN SAAT MASIH DI ATAS MOTOR YANG KUKENDARAI!
Sampai suatu kejadian yang dahsyat (menurutq) pun terjadi . ..


saat tiba di persimpangan Lapangan Simaritoh (tepatnya saat aq mencecar jejak angkot di belakangnya) secara tiba - tiba seorang bapak tua dengan sepeda motornya datang dari arah berlawanan dengan kecepatan yang . . . (bahkan sampai sekarang pun aq gak inget gimana dy nabrak aq) menabrakq

Yang menurutq menakjubkan dari kejadian itu adalah: AKU GAK INGET SAMA SEKALI KRONOLOGI DARI SAAT AQ TERTABRAK SAMPAI AQ DIBAWA KE RUMAH SAKIT !!!
Dalam tahap ini, sejauh yang aq pelajari aq mengalami yang namanya : amnesia retrogade.
Ya, lupa akan momen saat kecelakaan itu terjadi, ..
yang aq ingat hanya aq melotot dibalik helm saat tau aq BERPOTENSI untuk jatuh dari motorq. Udah, sampai sebatas itu aja yg q inget . ..
tapi, teman2 q menceritakan bagian setelah itu.

Mereka bilang, setelah aq jatuh, mereka pun berkeluaran dari angkot sembari ngeliatin aq MENGEJAR SI BAPAK TUA YANG NABRAK AQ TADI.
Wew!
Aq gak bisa bayangin kejadian itu . .
aq yang dengan rok agak kesempitan, helm agak kebesaran, tas gede - kurang - gede, bisa bangkit & lari setelah jatuh bersama motorq itu, ngejer yang nabrak aq itu.

Teman2 q (2 orang, sebut saja mereka Budi dan Anto. Ckckck. ..) lari juga ngejer bapak tua itu. Malah temen2q itu sempet nyabut kunci motornya dan minta KTP bapak itu. Subhanallah . .. how care they are!

lanjut!
(masih cerita versi temanq) dari situ aq dibawa pulang, kebetulan gak jauh dari TKP, motorq ditenteng teman lelakiq sampai rumah.
Tiba di rumah, hanya ada pembantuq bersama anaknya. .
Akhirnya, teman2q yang ada di 1 angkot ini malah beralih mendatangi rumahq.
Pembantuq nelpon Bunda, minta Bunda supaya segera pulang (tanpa memberi tau kalo aq baru kecelakaan motor) . Bunda yang inget kalo aq pergi sekolah tadi bawa motor langsung menebak : " Dita kecelakaan ya?!"
Pembantuq pun menjawab "iya" dengan takut2.
Bunda bergegas pulang.
Dari situ aq dibawa ke IGD RS. Vita Insani, dan diobati di sana..

Nah, bagian berikut ini yang paling mengesankan (menurut teman2q):
Sepulang dari RS, aq meronta gak terima . . kenapa aq bisa jatuh, pasti motornya hancur, psati abangq marah, dsb. ..
aq pergi ke kamar dan berteriak2 histeris krena aq gak bisa inget apa2 tentang peristiwa itu. Teman2 q ( sebut saja Tina dan Tini) mencoba menenangkanq di kamar sembari meyakinkanq kalo aq gak perlu berusaha keras mengingat2nya.
aq merengek2 seperti anak kecil khususnya karena takut abangq marah karena motornya kenapa2.
Bunda pun menelepon abg d Malaysia, mminta dy bilang ke aq kalo: everything's OK. Dia gak mara kalo kerete tu kenapa2.
Bunda sampe ngebentak aq: "gak usah takut! Itu motor punya Mama, bukan punya dia,"
Aq merengek saat di telepon dan kemudian membantingnya. Kesal!
mereka semua berteriak kaget.
Kemudian pembantu mengambilkan aq segelas air putih agar aq lebih tenang. Setelah aq minum, masih ada perasaan kesal. .aq campakkan gelas itu sekuat2nya.
Pecahannya pun disapu oleh temanq (sebut saja dia Renaldi).

Akhirnya gak lama, mereka semua pun pulang, mengingat aq jg perlu istirahat.
Aq tidur di kamarq ditemani Bunda.
Nah, bagian ini yang menurutq menunjukkan betapa Bunda menyayangi anaknya (khususnya aq pada saat seperti ini)
Aq tidur-bangun-makan-tidur-bangun-makan-...dst
tapi, tiap kali aq bangun ada suatu fenomena aneh yang dirasakan Bunda dan baru aq sadari belakangan,yaitu: AKU SELALU MENANYAKAN HAL YANG SAMA TIAP KALI BANGUN.
Contoh: (bangun pertama) : " Ma, keretanya gimana? Spionnya ? "
"Ma, Mas Eko gak marah kan?"
(bangun ke-2): " Ma, keretanya dah dibawa ke bengkel ? "
"Mas Eko gak papa kan Ma? Gak marah kan?"
(bangun ke-3): " Keretanya dah diservis ama Papa kan Ma? "
"Mas Eko mau maafin Dita kan ya Ma?"

Setelah bangun ke-3 itu, Bunda tersenyum dan bilang: " Mbak udah 3 kali nanya ini. Keretanya ya lecet dikit, udah dibawa Papa servis. Mas Eko gak marah, .. kan kmaren mbak dah ngomong sama dia . .."

Yang aq rasakan adalah: ketika aq bangun dan menanyakan hal yang mirip itu, aq kayak mimpi. Makanya, kalo cuma mimpi sih, ya aq bertekad nanti kalo udah bangun, q tanyain ke Bunda, eh . . .ternyata itu beneran.


Selesailah hari itu, ..
Hari Senin aq masuk sekolah, mengingat ada ujian praktek dari salah satu mata pelajaran.
Guruku belum tau mengenai peristiwa ini. Namun, sesuai kesepakatan dengan Bunda, selesai pelajaran ini aq mau dijemput pulang buat istirahat, soalnya belum fit bener.

Tapi, Masya Allah ( bagian ini yang paling ingin aq sampaikan, agar kita bisa lebih belajar mengerti perasaan teman dekat kita ). .. teman2q yang kemarin itu turut nganter ke rumah, bukannya bantu aq buat sembuh atau ngelupain peristiwa ini, eh . .. malah mereka ngeledekin aq dengan adegan hingar bingar q yg kemarennya.

Orang 1: begitu selesai upacara dan masuk kelas, dia ngeliat aq sambil bertingkah menirukan gayaq yg waktu itu, "Ma, Mas Eko gak marah kan? keretanya gak apa- apa kan?"
Aiiiissshh, .. sakitnya!

Orang 2: "Eh, udah masuk Dit? Awas ada gelas terbang, weE. . ."

Orang 3: " Aq gak inget apa2 lo. Gimana ini? Aq gak inget apa2 . . ."

dadaq dah SESAK kali itu, pengen x rasanya aq bilang di hadapan wajah mereka itu semua: MULUT KALIAN ITU DISEKOLAHIN DIMANA ???
gitu, ..PENGEEEEEEENNNNnNnnnnn kali rasanya!
Sayang, waktu gak bisa diputar . . .


it's OK karena itu baru 2 hari berlalu dari peristiwa itu.
Yang bikin aq kaget adalah: sudah hampir 1 tahun berlalu dari peristiwa itu, tapi mereka masih merekam dengan jelas peristiwa itu . . . terlebih lagi mereka masih menganggap kelakuanq waktu itu sebagai suatu LELUCON! Bahkan ada yg bilang, gak nyangka ternyata kemampuan aktingq bisa sekeren itu. Astagfirullah, ..!

LELUCON, kawan ?!!!
Mereka gak tau betapa aq berusaha keras membunuh rasa trauma di dalam diriq sampai sekarang, terlebih karena luka di tangan kananq bekas jatuh waktu itu gak bisa ilang. Gimana mungkin aq mudah melupakan peristiwa itu?


Kayak gitu caranya, aq jadi pingin berada di posisi mereka sekarang juga.
ya.
Aq pengen ngeliat mereka jatuh, tersungkur, kecelakaan dari motor, trus merengek + mengamuk sendiri karena amnesia itu. Lalu, di kemudian hari aq berbalik ngeledekin mereka dengan kalimat begini:
" Nah, gimana rasanya kecelakaan? Enak gak? Mau lagi gak kira2? Aktingmu keren banget loh, .. besok2 jgn cuma gelas yang dilempar, tapi meja juga dibalikkan ya? Bisa? " sambil ternyum menang.


Tapi . ..
gak mungkin aq membawa diriq kayak gitu
Karena itu berarti aq SAMA BURUKNYA sama mereka.
Ya kan?

Biarlah aq terus memasang "topeng" senyum saat mereka berlaku begitu dan tetap memohon sama Allah, biar hati mereka itu ditunjukkan ke jalan yang benar, supaya mereka jago berempati dengan teman- temannya (gak harus ke aq) dan orang lain yang menyayangi dan disayangi oleh mereka.

Nah, menurutq sih aq udah mengalami 2 gejala gangguan psikologis di sini. OC ama PTSD..,
tapi Alhamdulillah udah sembuh, ..
Aq malah bsa jadi lebih dewasa dan berempati karenanya.


Ayah dan Bunda emang bener deh:
api gak sepatutnya dibalas api
. . .
~!@#$%^&*(?>":<{

0 comments:

Post a Comment